Danau Toba Butuh Sentuhan Teknologi Terapan

MEDAN – Wakil Gubernur Sumatera Utara Nurhajizah Marpaung menilai kawasan strategis nasional Danau Toba butuh sentuhan teknologi terapan untuk memenuhi kelengkapan infrstruktur berbasis penelitian dan pengembangan terpadu.

Dia mengatakan ini saat membuka sosialisasi teknologi terapan Bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ( PUPR) bekerja sama dengan Balitbang Provsu dan Balitbang Kementerian PUPR. Acara ini memaparkan inovasi-inovasi aktual teknologi terapan yang akan dimanfaatkan Provinsi Sumatera Utara untuk pengembangan kawasan Danau Toba.

Nurhajizah mengakui kawasan Danau Toba telah menjadi prioritas kepariwisataan global setelah Bali. Selama ini sudah banyak riset yang dilakukan berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi, tapi masih parsial. Perlu litbang terintegrasi agar pembangunan benar-benar tepat sasaran dan bermanfaat.

“Saya minta seluruh aparatur litbang serta stakeholder terutama dewan riset semakin solid karena peran penelitian dan kajian sangat penting dan strategis dalam mendesain kebijakan pembangunan kawasan Danau Toba. Kebijakan pembangunan melalui program unggulan harus bermuara mengentaskan kemiskinan,” kata Nurhajizah, Jumat (28/4/2017).

Kepala Badan Litbang Provsu HMA Effendy Pohan mengemukakan berbagai kegiatan strategis di Sumut saat ini termasuk pengembangan kawasan Danau Toba memerlukan kebijakan berbasis riset, penelitian akurat dan proporsional.

Contohnya dengan menyinergikan berbagai program teknologi terapanPUPR ke kegiatan litbang dan pembangunan infrastruktur di Sumatera Utara.

“Meningkatkan kualitas litbang dan membangun infrastruktur khususnya dalam upaya mendukung pengembangan kawasan strategis pariwisata nasional Danau Toba dan berbagai teknologi lain yang dapat diterapkan di sini,” kata Effendy.

Tantang Warga Siantar Nurhajizah menantang warga dan Pemko Pematangsiantar untuk mencermati berbagai peluang dan terobosan ekonomi dengan hadirnya Kawasan Strategis Nasional (KSN) Danau Toba.

Meskipun sebagian besar wisatawan akan melalui Bandara Silangit, tapi dia yakin Kota Pematangsiantar akan tetap menjadi alternatif lintasan wisatawan ke Danau Toba.

“Pematangsiantar harus bisa melihat peluang-peluang usaha yang ada. Paling tidak industri kreatif yang produknya unik dan dapat menarik perhatian pendatang bisa terus dikembangkan,” kata perempuan yang pada 9 Maret 2017 lalu dilantik menjadi wakil gubernur ini.

Dia meminta mentalitas masyarakat dan aparatur yang kurang disiplin segera berubah. Menurutnya, salah satu persoalan yang menghambat kemajuan dan membuat Sumatera Utara tertinggal karena orang-orangnya kurang patuh aturan serta memiliki ego tinggi.

“Hal-hal ini harus kita tinggalkan kalau tak ingin Sumut ini terus-terusan dipantau KPK. Sesama SKPD harus bersatu dan solid untuk bekerja sama. Sebentar lagi, kita akan menggandeng investor China untuk membangun kawasan pesisir pantai sehingga bernilai ekonomis, mulai dari Nias, Sibolga, Serdangbedagai, Kuala Tanjung dan Batubara,” ungkapnya.

Sumatera Utara sangat membutuhkan investor dalam berbagai jenis usaha, termasuk investor untuk pengelola pabrik kopi karena kopi asal Sumut terkenal di Eropa. Untuk membangun kawasan Pulau Nias, mulai tahun ini akan masuk investasi sebesar Rp 58 triliun dari China yang fokus mengembangkan sektor pariwisata.

“Di sana akan dibangun bandara, hotel dan fasilitas lain bertaraf internasional. Estimasinya, Nias akan dikunjungi sedikitnya 1.000 wisatawan asing per hari, jika pembangunan infrastrukturnya selesai,” pungkasnya.

/Kompas

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *