Tol Medan-Danau Toba Terwujud, Siantar Bisa Jadi Kota Mati

SIANTAR – Rencana pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membangun ruas tol Medan-Danau Toba sepanjang 116 kilometer, menjadi ancaman tersendiri bagi Siantar jika tak diantisipasi oleh Pemko. Tak tertutup kemungkinan Siantar menjadi kota mati.

Keresahan itu setidaknya dicetuskan salah seorang warga Siantar, Marat Saragih, Kamis (20/4) jam 11.00 wib. Menurut Marat, jika pembangunan jalan tol Medan-Danau Toba sudah benar-benar terwujud, maka bisa dibayangkan kota Siantar tak akan disinggahi pelintas yang akan menuju Danau Toba dan sebaliknya.

“Kerap terlintas dalam pemikiran, apa pengaruh terhadap kota ini jika jalan tol dari Medan sampai ke Danau Toba telah tersambung, pasti berpengaruh, contoh kecil kedai bakmi Simpang 4 akan sepi oleh pelintas,” katanya.

Karena menurut dia, sepanjang jalan tol pasti melengkapi berbagai sarana dan prasarana termasuk kedai bakmi misalnya, dan itu akan berdampak pada menurunnya perputaran uang di kota Siantar. Berkaca dari Candi Borobudur yang berlokasi di Magelang, sambung Marat, tetapi wisatawan rata-rata menginap di Jogyakarta.

“Kalau Jogya bisa, berarti Siantar juga harus bisa. Pengunjung boleh tujuan Danau Toba,tapi makan atau minum serta oleh-olehnya bahkan tidurnya harus di Siantar,” urai Marat lebih jauh.

Itu sebabnya, lanjut Marat, kita tidak mau Siantar jadi kota kenangan, seperti kota-kota di Jawa efek berfungsinya tol Cikopo, Cipali dan tol lainnya. Ditegasknnya, kota ini harus punya sesuatu yang menarik, yang membuat orang akan singgah. “Dulu ada BSA, namun saat ini jumlahnya semakin hari semakin sedikit dan bukan tidak mungkin suatu saat akan tinggal tugu,” katanya.

Siantar tidak bisa lagi hanya mengandalkan roti Ganda, kedai kopi Sedap dan Koktung. Karena semua itu akan tersedia di sepanjang ruas tol Medan-Danau Toba.

“Ada ide kecil dari saya dan akan lebih baik jika dimulai dari sekarang ini. Meniru Jogya, Bali bahkan Lombok, kenapa kita kepengen lagi kesana. Jawabnya hanya dua, yakni daerahnya bagus dan eksotis dan masyarakatnya wellcome, ramah dan santun,” beber Marat.

Pada kesempatan berbeda, Plt Sekda Siantar Reinward Simanjuntak disinggung soal upaya Pemko mengantisipasi terwujudnya tol Medan-Danau Toba yang berpotensi menjadikan Siantar sebagai kota mati menyebut, justru dengan adanya ruas tol itu harus ditangkap menjadi peluang bagi kota ini.

Dia katakan, ada tiga langkah yang sudah dan akan dikerjakan Pemko Siantar dengan hadirnya ruas tol Medan-Danau Toba, di antaranya mengupayakan adanya pintu keluar masuk tol di Siantar.

Langkah ini kata Reinward sudah dikerjakan oleh Pemko tahun ini dengan menyurati Kementerian PUPR secara langsung pada 21 Maret 2017 melalui surat Nomor : 050/1869/III/2017.

“Kita sudah surati PUPR, meminta agar ada pintu keluar masuk tol di Siantar. Dan pihak PUPR respons dengan baik,” kata Reinward dihubungi melalui ponselnya, Kamis (20/4) jam 15.30 wib.

Kemudian, dalam upaya membuat pelintas mau singgah di Siantar, Pemko akan membangun wisata historis. Dia menyebut, banyak perantau yang sukses di luar Siantar memiliki sejarah tersendiri dengan kota ini, semisal ketika lahir, bersekolah, bersosial, atau nongkrong di Koktong, Sedap dan lokasi lainnya.

“Nah ini yang coba kita akan eksplore dari para pelintas yang akan ke Danau Toba, mereka pasti akan singgah karena kota ini memiliki kaitan sejarah dengan mereka. Tentu harus kita tingkatkan lokasi-lokasi historis tadi,” urai Reinward.

Terakhir, sebut Kadis Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman itu, Pemko akan meningkatkan berbagai fasilitas layanan terhadap publik dan ketersediaan kebutuhan bagi para pelintas.

Dengan pelayanan publik yang prima, tentu pelintas akan betah di Siantar. Kemudian jika wisatawan sudah semakin banyak di Parapat atau Danau Toba, tentu kebutuhan wisatawan seperti makanan, minuman atau kebutuhan sekunder lainnya bisa dipasok dari Siantar.

“Jadi, selain dua hal di atas, soal pintu tol dan wisata historis, kita juga harus meningkatkan layanan publik dan ketersediaan kebutuhan untuk wisatawan yang berkualitas, itu solusi yang bisa lakukan untuk mengantisipasi kota ini tidak menjadi kota mati jika ruas tol Medan-Danau Toba dibangun,” tandasnya. (tig)

/metro24jam

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *