Orang Batak Bangun Monumen Makam Leluhur, Bagaimana Sejarahnya?

JAKARTA – Kalau orang Batak sering pulang kampung, pastilah sering melihat tugu-tugu di kanan-kiri jalan yang membelah persawahan. Tapi tahukah kalian, monumen kuburan leluhur orang Batak itu pertama dibangun di Balige pada 1934 untuk mengenang pendiri marga Tampubolon.

Sejarawan Anthony Reid dalam Kuasa Leluhur (2006) menjelaskan, baru pada 1960-anlah pembangunan tugu ini jadi menjamur.

Walau membangun tugu ini bukan tradisi awal halak hita, tapi pembangunannya sendiri didasarkan pada rasa hormat kita kepada ompu-ompu na jolo serta pelaksanaan kewajiban untuk menghormati ayah dan ibu.

Sebenarnya sebelum tugu, kita punya tradisi untuk menghormati ompu-ompu na jolo antara lain tradisi kubur batu sarkofagus yang peninggalannya masih bisa kita lihat di Pulau Samosir. Serta mangongkal holi, di mana tulang belulang ompu-ompu ta digali lalu dipindahkan ke sebuah makam bersama (tambak).

Pembangunan tugu mulai berkembang sekitar tahun 1960-an. Sedikit banyaknya didukung oleh munculnya orang Batak kaya raya dan sukses di perantauan.

Apa hubungan tugu dengan orang kaya?

Anthony Reid mencatat bagaimana mayoritas anak-anak dari Samosir kala itu lebih senang tinggal di kota-kota (besar) di Indonesia dan cenderung kembali ke kampung halaman hanya untuk berpesta, menggelar acara mangongkal holi serta membangun tugu.

“Sebagaimana dikeluhkan oleh para pejabat pemerintah, makam dan monumen-monumen orang meninggal adalah satu-satunya tanda investasi oleh orang-orang batak rantau di kampung halaman nenek moyang mereka,” tulis Reid.

Pembangunan tugu di Bona Pasogit pada era itu juga didorong oleh didirikannya patung Sisingamangaraja XX di Soposurung pada 1953, sampai akhirnya tokoh Batak itu diberi gelar Pahlawan Nasional pada November 1961.

Karena marga-marga lain merasa Sisingamangaraja XII hanya sebagai pahlawan marga Sinambela, maka mereka mulai membangun patung-patung untuk pahlawan (pendiri marga)  mereka masing-masing.

Bayangkan dari 500-an marga Batak semua keturunannya membangun tugu di Bona Pasogit, maka tak heran setiap pulang kampung tiang-tiang dan patung menjulang menjadi pemandangan yang ramai.

 

/batakgaul

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *