Kini Kota Parapat Dipenuhi Sampah

SETIAP kali menyambut pergantian tahun, beberapa daerah tujuan wisata salah satunya parapat menjadi pilihan masyarakat untuk menghabiskan malam pergantian tahun dan menyambut tahun baru dengan penuh sukacita. Pesta kembang api akan mewarnai malam pergantian tahun di beberapa objek wisata di Sumatera Utara (Sumut).

Persoalan yang kemudian muncul adalah, pengunjung yang datang ke beberapa objek wisata menyisakan sampah dan membuang sampah dengan sembarangan. Dari amatan yang dilakukan Go Sumut di Kota Parapat selama beberapa hari, banyak pengunjung yang makan di dalam mobil dan membuang bungkus atau botol minumannya ke jalan atau ke parit jalan.

Tidak hanya di Kota Parapat, Danau Toba juga menjadi tempat sampah yang sangat lebar. Pengunjung yang menaiki kapal motor penyeberangan dengan enaknya membuang botol minuman atau bungkus makanan ke danau. Padahal, didalam kapal sudah ada disiapkan tempat sampah.

Menurut salah seorang yang sangat peduli dengan pelestarian Danau Toba, Ranto Sibarani, Kamis (5/1/2017) mengungkapkan bahwa Danau Toba adalah karunia terindah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Kenapa karunia terindah itu tidak dijaga dengan baik ?

“Masyarakat sekitar Danau Toba dan pengunjung yang datang ke kawasan wisata Danau Toba harus mempunyai rasa memiliki terhadap keberdaan Danau Toba. Kalau tidak, masyarakat sekitar dan pengunjung yang datang pun tidak akan peduli dengan masalah kebersihan seperti sampah,” katanya.

Sudah banyak LSM dan organisasi yang peduli dengan upaya pelestarian alam Danau Toba, lanjut Ranto Sibarani yang menyerukan agar semua elemen ikut ambil bagian dalam menjaga keindahan, kebersihan dan kelestarian alam sekitar danau termasuk dengan hutannya yang semakin gundul.

“Dikhawatirkan, jika semua elemen tidak memiliki kesadaran dalam mempertahankan kelestarian Danau Toba, termasuk masalah sampahnya, maka Danau Toba akan jadi danau tempat sampah dan Kota Parapat yang berada persis di jalur lintas Sumatera harus berbenah dan memiliki kesadaran agar tidak membuang sampah semabarangan,” tandasnya.

Saat menyusuri Kota Parapat, di saluran air kiri dan kanan jalan akan terlihat sampah berserakan dan menumpuk menimbulkan bau tidak sedap. Terutama di parit dekat dengan Pelabuhan Tigaraja, saluran airnya sudah semakin dangkal karena timbunan sampah yang berbaur dengan lumpur.

Tidak hanya di saluran air atau parit, sampah juga berserakan di sepanjang jalan Kota Parapat akibat banyaknya penumpang dan wisatawan yang datang membuang sampah sembarangan. Tumpukan sampah terlihat dibiarkan begitu saja hingga menimbulkan bau tidak sedap.

Menurut Anggota DPD RI Asal Sumatera Utara Parlindungan Purba, persoalan sebuah kawasan wisata adalah masih kurangnya kesadaran warga sekitar dan wisatawan yang datang untuk membuang sampah pada tempat-tempat yang telah disediakan.

“Semua elemen sebenarnya memiliki tanggungjawab yang sama dalam menjaga kebersihan sebuah kawasan terutama daerah tujuan wisata. Selain dari kepedulian pemerintah setempat dalam mengatasi permasalahan ini, beberapa tanda dan larangan juga perlu dibuat agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan,” paparnya.

Tidak hanya larangan, lanjutnya pemerintah setempat juga harus menyediakan tempat pembuangan sampah yang mudah dijangkau masyarakat dan pengunjung yang datang ke salah satu objek wisata.

Kota Parapat, sebagai salah satu kota yang posisinya persis di jalur lintas Barat sangat ramai dengan pengunjung yang ingin melihat keindahan alam Danau Toba dari dekat. Mari sama-sama saling mengingatkan agar teman-teman, keluarga dan kerabat kita lainnya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Ayo bergandeng tangan menyelamatkan Danau Toba dari masalah sampah yang membuat danau menjadi tidak indah.

/Go sumut

Post Author: Come To Lake Toba

You know my name but not my story

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *