4 Budaya Batak Toba, Karo, Simalungun dan Nias Dikukuhkan

Jakarta – Empat budaya etnis asli Sumatera Utara (Sumut) dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) 2016 oleh Pemerintah RI melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Sertifikat Karya itu diserahkan Mendikbud Muhadjir Effendy kepada Ketua Ketua Tim Penggerak PKK juga Ketua Dekranasda Sumut, Ny Evi Diana Sitorus.

Seperti siaran pers yang diterima redaksi medansatu.com, Sabtu (29/10/2016), keempat warisan budaya tersebut adalah budaya Sipaha Lima Ugamo Malim (Batak Toba), Erpangkir Ku Lau (Karo), Ni’oworu (Nias) dan Dayok Binatur (Simalungun).

Disebutkan, ‘Sipaha Lima’ dan ‘Erpangir Ku Lau’ merupakan adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan. Sedangkan Dayok Binatur dan Ni’oworu merupakan kemahiran dan kerajinan tradisional.

Dalam kesempatan itu, istri Gubernur Sumut itu menjelaskan Sipaha Lima adalah perayaan syukur bumi dan panen yang masih dilaksanakan Komunitas Parmalim yang berpusat di Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa).

Sementara Erpangir Ku Lau adalah salah satu ritus di dalam suku Karo. Erpangir berasal dari kata pangir, yang berarti mandi atau langir. Oleh sebab itu erpangir, artinya adalah mandi dan berlangir.

Erpangir Ku Lau adalah lanjutan dari ritus Maba Anak Ku Lau (membawa anak turun mandi) dan Juma Tiga (upacara memperkenalkan anak kepada dasar pekerjaan tradisional Karo, yakni bertani).

Sementara, Dayok Binatur adalah makanan adat Batak Simalungun merupakan daging ayam masak yang diatur dalam piring lebar sesuai dengan bentuk ayam hidup (Dayok Atur Manggoluh).

Dengan pengkuhan ini, berarti ada 474 karya budaya yang ditetapkan menjadi WBTB di Indonesia. Perinciannya, 77 ditetapkan pada 2013, 96 WBTB pada 2014, serta 121 WBTB pada 2015. Karya budaya yang menjadi WBTB Indonesia berarti telah diverifikasi, diuji, dan dikaji keberadaannya.

Ketua Tim Ahli Penetapan WBTB Tety Pudentia menjelaskan, sidang penetapan berlangsung delapan bulan, karena tim harus turun ke lapangan untuk memverifikasi karya budaya. Tim ahli juga meneliti naskah akademis dari pemerintah daerah. (hendrix)

Sumber: Medansatu

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *