Siksa Honda Supra GTR 150 Lintasi Medan-Danau Toba

Medan – Salah satu agenda Honda Bikers Day (HBD) Regional Medan 2016 yang dihelat pada Sabtu  (22/10) pekan lalu adalah touring menggunakan all new Honda Supra GTR 150. Manajemen Honda, dealer resmi, dan sejumlah juru warta mengikuti touring ini. Liputan6.com jadi bagian di dalamnya.

Touring dimulai di Hotel Grand Angkasa, Medan, dan akan berakhir di Bandara Sibisa, Toba Samosir, dengan beberapa spot pemberhentian. Via Jalan Sidikalang, jarak yang harus ditempuh rombongan sejauh 187 km.

Panitia mengatakan, jalan yang akan dilalui cukup beragam. Mulai dari mulus-lurus, mulus-berlekok, rusak di beberapa bagian, hingga naik turun bukit. Katanya, trek tersebut dirancang agar mereka yang ikut touring bisa merasakan sendiri performa Supra GTR 150. Andalkah motor ini? Mari kita gas.

Perjalanan dimulai pukul 09.00 pagi. Spot pertama yang akan didatangi adalah Air Terjun Satu HATI di kawasan Sibolangit, Kabupaten Deli. Untuk mencapai spot tersebut, kami harus melewati jalanan dalam kota, dengan beberapa pasar dan titik kemacetan.

Saat pertama kali menaiki motor ini, rasanya cukup menyenangkan. Maksudnya, posisi duduk dan stang sepertinya tidak akan membuat tangan terasa cepat pegal bagi saya yang punya tinggi 170 cm ini.

Kemudian soal mesin. Di tarikan awal, Supra GTR 150 ini terasa cukup berat. Namun saat mulai memasuki rpm tinggi, getaran sudah bisa diminimalisir. Perasaan ini memang khas mesin DOHC, yang perlu menggerakkan dua camshaft di putaran bawah.

Praktis, sampai sesi pertama ke Air Terjun Satu HATI, performa motor tidak begitu dapat diuji. Maklum, kami berjalan sangat teratur, sekira 70-80 km/jam saja. Jalanannya pun khas perkotaan: cukup lebar, halus, dan minim rintangan.

Performa kendaraan baru dapat kami uji sesungguhnya setelah melewati dan beristirahat di Air Terjun Satu HATI.

Ceritanya, jalanan yang mulai berkelok membuat awak pesertatouring lain terpaksa kehilangan jejak rombongan depan. Saat itu, kami mencoba menyusul mereka dengan menggeber motor dengan maksimal.

Padahal kemudian baru diketahui, bahwa kami tak pernah ketinggalan. Kami (tiga orang yang lepas dari rombongan) justru mendahului semuanya karena rombongan pertama ternyata beristirahat di spot kedua, Air Terjun Sipiso-Piso, di Desa Tongging.

Saat mencoba mengejar rombongan depan itulah tuas gas Supra GTR 150 kami betot hingga maksimal, gigi juga ada di posisi teratas. Alhasil, kami bertiga rata-rata bisa menggeber Supra GTR 150 hingga 121 km/jam, yang kami pikir merupakan kecepatan puncaknya karena tak bisa lebih cepat dari itu.

Sebelum sampai sana, di posisi gigi-4, dalam kecepatan 105 km/jam, sepersekian detik motor kehilangan tenaga (ngempos), sebelum akhirnya bertenaga kembali setelah gigi dinaikkan. Mulai di kecepatan 110 km/jam ke atas, motor juga mulai sedikit goyang.

Apalagi motor yang kami tunggangi juga telah dilengkapi dengan side box. Dengan kecepatan seperti itu, tentu side box cukup mengganggu aerodinamika. “Untung nyasar, kalau enggak mana bisa geber motor maksimal,” ujar salah seorang rekan.

Kami bertiga akhirnya kembali berkumpul dengan rombongan, dan melanjutkan perjalanan ke Bandara Sibisa. Jalan untuk melintasi ke sana berbeda. Pertama berkelok-kelok, kedua rusak parah, terutama di jalan persis sebelum landasan pacu.

Di jalanan pertama, praktis kami tidak mengalami hambatan apapun. Performa Supra GTR 150 terasa mumpuni untuk melintasi tanjakan yang beberapa di antaranya hampir 45 derajat. Ditambah bentang alam Toba yang bisa kami lihat dengan baik, membuat perjalanan di sore itu sangat menyenangkan.

Di jalanan terakhir menjelang garis finish, Supra GTR 150 kembali diuji. Gambarannya, jalanan yang dimaksud termasuk jalan kampung, rusak parah, penuh dengan batu dan debu beterbangan, dan cukup jauh (sekira 700 meter).

Di sini, terasa betul bahwa bantingan suspensi Supra GTR 150 relatif keras dan joknya juga lumayan kaku. Memang jika di jalan mulus, karakter suspensi ini membantu. Namun di jalan berbatu, kami cukup kewalahan. Alhasil aksi standing (berdiri menjauhkan bokong ke jok dengan berlandaskan footstep) kerap kami lakukan untuk mencegah perut sakit.

Kami pun akhirnya sampai di gerbang Bandara Sibisa, dengan disambut oleh tepuk tangan peserta, serta kilauan cahaya dari obor yang dipasang di kanan dan kiri jalan.

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *