Pengelola Danau Toba Cari Tahu Kunci Sukses di Danau Xi Hu Cina

HANGZHOU — Menteri Pariwisata Arief Yahya mengajak gubernur Sumatra Utara dan tiga bupati untuk menyaksikan atraksi yang dikemas di danau Xi Hu, Hangzhou, Cina. Mereka adalah Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Bupati Toba Samosir Darwin Siagian, Bupati Humbang Hasundutan Dosmar Banjarnahor, Bupati Samosir Rapidin Simbolon serta beberapa staf yang sedang berguru di Negeri Panda itu. Mereka sedang melakukanbenchmarking untuk Danau Toba.

Wajah empat pejabat di Sumatra Utara itu tampak optimis. Canda tawa mengisi sepanjang pedestrian Danau Barat atau West Lake itu. Mereka bisa membayangkan secara konkret, seperti apa yang dimaksud dengan destinasi yang kelas dunia. Mereka merasakan sendiri, menginjak dengan kaki dan merasakan pedestrian yang dibangun bersih, rapi, terjaga, sampai-sampai hendak membuang putung rokok saja harus menemukan tong sampah dulu. Tidak asal lempar ke mana saja yang dianggap ‘tidak dilihat orang.’

Mereka makin menyadari penuh, 3A yakni Atraksi, Akses, Amenitas adalah hal yang paling mendasar dalam pengembangan destinasi. “Kalau soal potensi, Danau Toba jauh lebih hebat, lebih besar, lebih luas, lebih dalam, lebih jernih,” kata Gubernur Tengku Erry Nuradi di Hangzhou.

Danau West Lake atau Xi Hu ini kedalaman hanya sekitar 5 meteran saja. Luasanya juga terlalu kecil jika dibandingkan dengan Danau Toba. “Tidak ada ombak besar seperti yang biasa dirasakan di Danau Toba. Keindahan alam Danau Toba jauh lebih unggul,” ujar Bupati Humbang Hasundutan Dosmar Banjarnahor.

Apa Atraksi yang membuat Xi Hu menjadi danau kelas dunia? Pertama, sepanjang bibir danau keliling dibuat pedestrian atau tempat jalan kaki yang nyaman. Orang tua dan anak-anak yang harus menggunakan kursi roda atau stroller juga bisa menikmati dengan santai. Konstruksi bawahnya tatanan batu yang kuat dan mampu bertahan ratusan tahun. Jalan dibuat cukup lebar, bisa untuk berjalan berjajar lima orang sekaligus.

Kedua, pohon-pohon besar, rindang, ditata rapi, dan disorot beberapa lampu 1.000 watt dari batang menuju ke arah daun. Sehingga kalau malam refleksi pantulan cahayanya menerangi jalan. Lighting tidak langsung menyorot ke bawah, ke arah jalan atau pedestrian. Tapi dibalik, memanfaatkan lebar daun (oak tree) memantulkan cahaya.

Ketiga, lampu-lampu penerangan jalan di sepanjang pedestrian didesain sama, ukuran sama, dan khas oriental. Juga taman-taman dibuat sangat indah sepanjang tepian danau. Mereka betul-betul menonjolkan keindahan landscape, bukan hanya danaunya sendiri, tetapi suasana di seputar danau yang nyaman dipandang mata.

Keempat, ada tour keliling danau dengan kapal pesiar besar yang didesain oriental, atap, pilar, langit-langit dibuat kayu bermotif ukir gaya Cina. Ada yang ukuran besar, sedang dan kecil hanya berkapasitas 4 orang saja saja.

Mereka hanya berkeliling danau, mesin kapalnya menggunakan tenaga listrik sehingga tidak berisik dan tidak mengeluarkan polutan sama sekali. Kelima, membuat story telling yang menarik dan melegenda, seperti halnya di Xi Hu berkisah soal Sam Pek Eng Tay, dan cerita Ular Putih. Kisah kasih tak sampai, yang menjadi cerita rakyat dan popular dari mulut ke mulut. Story line inilah salah satu yang menjadi daya dongkrak destinasi dan menjadi atraksi menarik.

Keenam, mereka punya si jaket orange, pasukan pemungut sampah yang terus mobile mengambil sampah sekecil apapun. Tidak perlu menunggu sampah menumpuk di pojokan yang menciptakan pemandangan tak elok dan bau tak sedap. Pasukan itu dipersenjatai perlengkapan kebersihan, sapu, serokan, dan rajin menyusuri jalan berkeliling danau. Ketujuh, atraksi Impression West Lake yang sudah diinisiasi sejak 2007 dan menjadi karya besar seniman Zhan Yimou.

Yang paling membuat tiga bupati dan satu gubernur itu shock dan “jatuh cinta.” Namanya: Impression West Lake. Pertunjukan yang menggabungkan unsur tradisional Cina, Klasik Eropa, panggung alan, outdoor, teknologi, berlatar danau dan bukit-bukit bercahaya dan seolah berjalan, menari dan berakai di atas air.

Ini show yang sempat meruntuhkan hati Presiden Joko Widodo saat KTT G-20 pada 4-5 September lalu saat berkunjung ke West Lake ini. Nyaris sempurna, sehingga waktu 60 menit terlalu cepat. Perasaan baru saja mulai, tiba-tiba sudah berada di ujung akhir pertunjukan. Sang sutradara dan koreografer benar-benar memaksimalkan detik demi detik dengan detail aksi yang menarik pancaindra.

Begitu masuk di tribun penonton, yang dibuat nyaman dan posisi kaki rileks, bisa setengah selonjor, sandaran kursi tidak terlampau tegak seperti hendak take off dan landing di pesawat. Sudutnya dibuat nyaman untuk melihat dan menyaksikan sesuatu.

Penasaran berawal dari sini.  Di depan kita adalah hamparan air tenang, di tepian danau Xi Hu yang luas. Seperti kolam raksasa, kira-kira seluas dua-tiga lapangan sepak bola. Samping kiri kanan, pepohonan besar yang serba gelap. Di depan jauh ada jembatan di atasnya ada bangunan seperti joglo, bangunan tradisional China yang ujungnya selalu melengkung. Layer yang lebih jauh di balik jembatan itu adalah Danau Xi Hu dan paling jauh di ujung sana background gunung, yang topi atasnya berhias lampu-lampu keemasan. Mirip bukit emas yang ujung atasnya memantulkan kerlip cahaya.

Detik pertama, pemain musik tradisional Cina memetik dawai. Begitu dawai dibunyikan, sekali petik lampu di hijau-kuning menyerupai daun dan bunga menghiasi banyak spot di atas permukaan air. Petikan kedua, pohon di kiri kanan menyala biru. Petikan ketiga, jembatan dan joglo Cina di depan menyala merah dan kuning, warna khas Oriental.

Apa reaksi saat petikan demi petikan itu mengubah suasana pertunjukan? ‘Woooww, berkali-kali penonton spontan mengucapkan tiga huruf itu. Dan itu baru sentuhan pembudshuluan, sepanjang pertunjukan selalu ada kombonasi antara art dalam lighting, gerak tari, musik dan suara, teknologi hologram, sampai permainan stage yang tersembunyi di bawah air.

Bukan hanya musik tradisi Cina, tapi juga dikombinasi dengan piano, karya-karyanya Bethoven, seriosa, tarian balet, khas Eropa dicampur aduk dengan gerak dan tari yang serasi. Ada audience yang kecantol di gerak tari, ada yang terbawa oleh musik klasik, ada yang terkesan dengan teknologi lighting, soundsyatem, stage, sampai cara mengatur flow agar grafik emosi penonton bisa terbawa sampai di akhir peetunjukan. Teknologi hologram juga membuat audienceterkesima.

Kok bisa? Seorang Ballerina berdansa sendiri, tiba-tiba di sampingnya ada foto copy-nya, persis. Sama bentuk, sama ukuran, dan sama gerakannya. Lalu tiba-tiba membelah diri lagi, jadi empat, jadi enam, jadi delapan, lalu hilang. Teknologinya sempurna mengelabuhi mata telanjang di jarak 20-an meter dari tribun.

Apa yang terjadi ketika pertunjukan usai? Para bupati, gubernur dan pejabat itu masih tertegun, termangu. Mereka sama-sama bingung, darimana Danau Toba dibangun menjadi seperti Xi Hu. “Kami yakin, kami bisa!” kata Gubernur Tengku Erry semangat.

Sumber:republika

cometoliketoba.com

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *