Si Gale gale, Simbol Kearifal Lokal Masyarakat Samosir

Boneka Si Gale gale tercatat sebagai salah satu warisan budaya kearifan lokal masyarakat Samosir, Sumatera Utara. Keberadaan Boneka Si Gale Gale sudah berlangsung ratusan tahun.

Boneka Si Gale gale yang terbuat dari pahatan kayu, dan dibentuk menyerupai manusia, serta berbusaana adat Sumatera Utara lengkap dengan ulos tersebut, saat ini juga bisa ditemukan di Museum Wayang di Taman Fatahillah, Kawasan Kota Tua Jakarta.

Salah seorang petugas Museum Wayang, Didik Cahyono mengungkapkan, wayang boneka Si Gale gale yang saat ini menjadi salah satu koleksi di museum wayang didatangkan langsung dari Sumatera Utara, atas pemberian Gubernur Sumut.

“Nilai mistiknya masih ada. Makanya, dulu pernah ada pengunjung yang melihat penampakkan, dan kerasukan. Sejak saat itu, museum tidak lagi beroperasi sampai jam delapan malam,” ungkap Didik Cahyono

Menurut legenda masyarakat Samosir, Si Gale gale pertamanya dimainkan ketika seorang raja di wilayah tersebut bernama Si Raja Rahat memiliki putera yang gugur dalam peperangan, namun jenazahnya tidak pernah ditemukan. Putera Si Raja Rahat ini bernama Manggale.

Saking cintanya terhadap putera semata wayangnya itu, kesedihan Si Raja Rahat pun tidak terbendung, hinggaa mengalami jatuh sakit. Dalam sakitnya itu, tak satupun dukun mampu mengobatinya. Hingga akhirnya, untuk mengobati sakit Si Raja Rahat, sang dukun membuat pesta. Sebelum pesta berlangsung, sang dukun memahat sebilah kayu yang dibuat patung menyerupai Manggale. Pada saat pesta itulah, patung boneka menyerupai Manggale didandani mirip dengan Manggale, mengenakan pakaian adat Samosir lengkap dengan ulos.

Lalu, sang dukun memanggil arwah Manggale. Disaksikan oleh Si Raja Rahat pula, patung mirip Manggale itu kerasukan arwah, dan diiringi musik gondang, menari tor-tor. Melihat tor-tor boneka Manggale, Si Raja Rahat pun berubah menjadi riang, dan bergembira ikut menari tor-tor bersama boneka mirip Manggale itu.

“Di Samosir Sumatera Utara, Si Gale gale digunakan sebagai pelaksanaan upacara kematian. Tapi sekarang sering ditampilkan di acara-acara yang lain,” katanya.

Dalam memainkan Si Gale gale ini, kata Didik, saat ini, pemanin Si Gale gale yang disebut Pangurdot, diiringi seperangkat alat musik tradisional yang terdiri dari suling batak, gendang, dan gong. Alat musik ini dimainkan sambil manortor atau menari.(Wid)

Sumber:MerahPutih

cometoliketoba.com

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *