WALHI Minta Pemerintah Segera Atasi Penurunan Air Danau Toba

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Sumatera Utara, minta pemerintah segera mengatasi penurunan sekitar dua meter permukaan perairan Danau Toba di Parapat, Kabupaten Simalungun.

“Kondisi Danau Toba tersebut harus secepatnya di atasi oleh tujuh pemerintah Kabupaten yang mengelilingi danau yang terbesar dan memiliki nilai sejarah,” kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut, Dana Tarigan di Medan, Jumat (15/10/2016).

Penurunan air Danau Toba dari kondisi tinggi permukaan semula, menurut dia, juga menjadi perhatian bagi masyarakat yang tinggal di lokasi tersebut dan ada apa dibalik ini semua.

“Peristiwa fenomena alam tersebut, perlu dilakukan penelitian oleh pemerintah kabupaten (pemkab) yang bertanggung jawab dalam penataan dan pengelolaan Danau Toba sebagai objek wisata yang terkenal itu,” ujar Dana.

Ia menyebutkan, keadaan permukaan air Danau Toba yang mengalami penurunan itu, harus dibahas oleh pemkab dan jangan dibiarkan begitu saja serta dicari solusinya.

Selain itu, Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLH) segera membentuk tim untuk melakukan penelitian penyebab menurunnya permukaan air Danau Toba tersebut.

“Hal ini tidak lepas dari tanggung jawab KLH dan perlu menyelidiki penurunan permukaan air Danau Toba itu,” katanya.

Dana mengatakan, Walhi juga belum mengetahui secara pasti penyebab menurunnya permukaan air Danau Toba itu, dan bisa saja dikarenakan cuaca ekstrem panas yang terjadi saat di wilayah Sumut.

Kemudian, berkurangnya debit air Danau Toba, dugaan penebangan kayu di kawasan hutan yang berada di pinggiran Danau Toba dan pencemaran lingkungan lainnya.

“Pemerintah harus menyelamatkan kondisi Danau Toba itu, dan saat ini sebagai destinasi wisatawan mancanegara dan 10 daerah lainnya di Indonesia,” kata pemerhati lingkungan tersebut.

Sebelumnya, Lurah Kelurahan Tiga Raja, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, FerrY Risdoni Sinaga mengatakan, penurunan permukaan air Danau Toba merupakan fenomena alam.

Menurut Doni, fenomena itu sudah berkali-kali terjadi, dan selalu dalam rentang waktu kira-kira empat lima tahunan saat kemarau panjang melanda.

“Saya menetap di Parapat sejak tahun 1992, dan beberapa kali melihat terjadinya penyusutan,” kata Doni.

Biasanya, kata Doni, saat musim hujan dalam jangka panjang, perlahan-lahan permukaan air Danau Toba akan naik kembali.

Sumber : Netranews

cometoliketoba.com

Post Author: Come To Lake Toba

You know my name but not my story

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *