Tiga Komunitas Karo Gelar Upacara Tradisional

Medan – Komunitas Galang Kemajuan Center Kabupaten Karo bersama dengan Gerakan Nasional Sadar Wisata Karo serta Karo Trekker Community akan menghidupkan kembali pariwisata di daerah Tanah Karo, di antaranya dengan upacara tradisional erpangir ku lau. Hampir lima tahun upacara ini tidak pernah lagi dilangsungkan secara akbar dikarenakan berbagai alasan.

Ketua panitia Salmen Sembiring yang juga ketua Galang Kemajuan Karo melalui siaran persnya yang diterima MedanBisnis mengatakan, dengan diselenggarakannya ritual erpangir ku lau se-Sumatera Utara ini akan menghidupkan kembali wisata alam dan budaya Karo di Lau Debuk Debuk.

Ritual ini akan diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 2016 dan melibatkan komunitas dan masyarakat Karo yang masih melakukan tradisi tersebut. “Pihak panitia juga telah melakukan koordinasi dengan komunitas – komunitas ini dan juga pihak masyarakat Desa Doulu sendiri yang seluruhnya sangat mendukung acara ini,” katanya, Rabu (5/10).

Ritual erpangir ku lau memang berpusat di TWA Si Debuk Debuk, di kaki Gunung Sibayak. Kawasan ini berada dalam pengelolaan BBKSDA Sumut namun secara administratif berada pada wilayah Pemkab Karo.

Taman Wisata Alam Si Debuk Debuk yang memiliki luas 7 hektare tersebut kini terlihat terbengkalai. Demikian juga pelaku ritual yang semakin tidak teratur dan tidak terkoordinir dalam pelaksanaannya.

Pihaknya berharap dengan adanya acara ini maka TWA Debuk Debuk yang merupakan ikon pariwisata alam dan budaya Karo di Sumut akan bangkit kembali.

Pihak panitia juga telah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak pelaku ritual ini. Panitia juga masih melakukan komunikasi dengan komunitas-komunitas kepercayaan tradisional Karo yang umumnya tidak muncul ke permukaan secara terang-terangan baik di Deliserdang, Binjai, Medan dan Langkat.

Ketua Gerakan Nasional Sadar Wisata Kabupten Karo Briant Brahmana mengatakan, pengelolaan yang kurang baik dan kalah saing dengan pihak pengelola pemandian air panas di Raja Berneh menjadi satu faktor berkurangnya pengunjung ke TWA Debuk Debuk.

Padahal cerita sejarah Lau Debuk Debuk juga upacara – upacara tradisional demikian dapat menjadi daya tarik wisatawan. “Tidak hanya menawarkan keindahan alam vulkanik semata, Lau Debuk Debuk tidak dapat dipisahkan dari beberapa ritual tradisional Karo terutama erpangir ku lau.

Seperti dirangkum dari beberapa sumber bahwa minimal sekali setahun guru-guru (tabib, dukun) dan juga penganut kepercayaan tradisional Karo melakukan tradisi ini,”ujarnya.

Erpangir ku lau ke Debuk Debuk biasanya dilakukan setiap tanggal 13 kalender Karo atau setiap hari Cukera Dudu Lau menuju Bulan Purnama Raya.

Ritus ini dapat menjadi entertainment atau tontonan budaya bagi pengunjung.”Pemerintah daerah yang memiliki penduduk berlatar belakang pelaku ritual erpangir ku lau ini diharapkan mengakomodir kepentingan masyarakatnya untuk dapat terlibat ke acara ini baik Pemko Medan, Binjai, Langkat dan Deliserdang,” pungkas Briant.

Sumber:medanbisnisdaily.

cometoliketoba.com

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *