Ada Tradisi Kawin Lari di Batak Toba

JAKARTA – Perkawinan merupakan suatu bentuk ikatan antara dua orang yang saling mencintai. Proses dimana seorang laki-laki dengan seorang perempuan setelah melalui prosedur yang ditentukan dinamakan pasangan suami istri.

Dengan adanya pernikahan yang didasarkan atas naman cinta dan kasih sayang kepada pasangan, dapat menimbulkan rasa bahagia bagi kedua insan tersebut. Namun, apa jadinya jka pernikahan tersebut batal, dikarenakan tidak mampu membuat pesta adat yang sudah dilakukan turun temurun atau tidk direstui oleh kedua orang tua?

Dan jika itu memang terjadi dan bisa berakibat kandasnya hubungan pasangan karena adanya tantangan adat, mka mereka akan melakukan adat yang membelohkan seseorang kawin lari.

Adat seperti itu  rupanya memang ada, di suku Batak mengenal adat “mangalua”. Berdasarkan sumber informasi yang didapatkan, Mangalua sendiri berasal dari kata “manga” yang berarti melaksanakan. Sedangkan “lua” berarti membawa atau lari.

Secara adat Batak Toba pasangan yang melaksanakan metode Mangalua (kawin lari) dianggap belum resmi menikah. Mangalua termasuk ke dalam tata cara adat Batak Toba. Umumnya masyarakat Batak Toba menganggap sebuah proses adat perkawinan yang diwariskan adalah mengenai jumlah maskawin yang akan diberikan pihak pengantin laki-laki.

Secara adat batak Toba pasangan yang melaksanakan metode Mangalua (kawin lari) di anggap belum resmi menikah. Artinya pasangan yang mangalua (kawin lari) belum boleh menyelenggarakan upacara adat apapun dan menerima adat yang berhubungan dengan kehidupanya atau kasarnya pasangan Mangalua tidak masuk dalam perhitungan dalam unsur adat Batak Toba pada umunya. Meskipun demikian, pasangan mangalua bisa mendapatkan hak penuh secara Adat harus melaksanakan proses adat yang hampir sama seperti adat umumnya disebut pesta Mangadati (membayar adat).

Tidak bisa dipungkiri Mangalua (kawin lari) sudah banyak dilakukan oleh pasangan Batak yang tidak mampu menikah secara adat (mangoli). Mangalua jelas menyimpang dari adat Batak Toba. Namun pasangan Batak yang sudah terlanjur melakukannya dan menyesalinya, tetap bisa direhabilitasi.

Caranya dengan menyelenggarakan adatt “manuruk-nuru”, yaitu acara adat permintaan maaf keada keluarga pihak wanita. Bagi orang Batak Toba yang beragama Kristen, pihak pria (paranak) harus menyiapkan dana untuk membeli seekor anak babi (lomok-lomok) untuk dibawa sebagai sesembahan kepada keluarga pihak wanita (parboru). Bagi yang non-Kristen, bisa menggantinya dengan daging kambing.

Tidak hanya soal sesembahan, pihak pria juga harus membiayai transportasi, uangpiso-piso, juga dana untuk hujur panahatan dan pasituak na tonggi.

Ada sejumlah risiko yang harus ditanggung pasangan yang nekat melakukannya. Risiko ini setidaknya terdiri dari dua jenis. Pertama, adalah risiko dari lembaga keagamaan, atau gereja jika pasangan tersebut beragama Kristen. Kedua, adalah risiko adat. Nah, risiko ini adat ini lebih  berat, karena mempunyai dampak yang luas bagi kehidupan si pasangan nantinya.

Upaya Menghindari Sinamot?

Biaya pesta dan sinamot atau tuhor (mas kawin) dalam pernikahan adat Batak Toba merupakan momok bagi pria yang kurang mampu. Karena tidak sanggup memenuhinya, banyak pria akhirnya memilih jalan kawin lari (mangalua).

Lalu apakah tujuan mangalua hanya untuk menghindari sinamot?

Budayawan Batak, Bungaran Antonius Simanjuntak, menjelaskan awalnyamangalua dilakukan karena adanya (dugaan) larangan orangtua.

Karena si gadis menduga orangtuanya akan melarangnya kawin dengan seorang pemuda, maka dia ragu memberi jawaban kepadanya yang telah menunggu lama.

“Karena itu si pemuda melarikan gadis dan si gadis tidak menolak,” kata Bungaran dalam ‘Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba’ (2006).

Dahulu, kata Bungaran, kalau ada seorang gadis dilarikan, berarti si pemuda akan dianggap “pajolo gogo, papudi uhum” (mendahulukan kekuatan dan mengangkangi hukum). Artinya, dia telah mempermalukan kampung dengan sengaja.

“Biasanya reaksi huta ialah pergi berperang memerangi huta si pemuda yang dianggap menyebarkan rasa malu yang menghina,” ujar Bungaran.

Namun sekarang, kata Bungaran, kawin lari yang tanpa paksaan itu merupakan cara perkawinan termudah yang banyak dilakukan anak-anak muda Batak agar kawin di luar adat.

“Sekarang orang melalukan mangalua lebih disebabkan kurang mampu membayarsinamot dan menyelenggarakan pesta unjuk (kawin),” kata Bungaran.

Kadang-kadang, jelas dia, orangtua si gadis justru mengetahui rencana lari tersebut.

“Tetapi berpura-pura tidak tahu agar dia tidak dihina orang lain, terutama keluarganya, agar tidak malu,” ujarnya.

Orangtua si gadis juga kan berpura-pura sedih dan mengadukannya kepada seluruh keluarga. Setelahnya, pihak boru akan mengejar dan mencari pasangan tersebut.

“Semua ini dilakukan hanya untuk menutup rasa malu, karena anaknya kawin di luar adat,” ujar Bungaran.

/netralnews

cometoliketoba.com

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *