Banggalah Sebagai Anak ni Raja dan Boru Batak

COMETOLIKETOBA.COM – Di Indonesia pasti orang batak sangat dikenal, karena keunikanya dan ke pintaranya dalam berbagai hal terutama dalam hal kerja keras dalam mencari puing-puing kehidupan. Maka anda sebagai boru batak harus bangga, dan anda juga sebagai Anak ni raja juga harus lebih bangga juga.

Didalam adat batak, laki-laki adalah penentu pewaris keluarganya. Setiap anak laki-laki merekalah sebagai pewaris keluarga terhadap apa saja dari peninggalan orang tuanya. Kalau tidak ada cowok, maka sebuah keluarga batak itu kurang sempurna, karena nantinya dikenal dengan istilah Mate Pusuk / Mati Pucuk.

Anak…, bagi orang batak itu adalah seseorang yang sangat didambakan dan bahkan dari dulu dengan peninggalan neneng moyang telah memesan supaya orang batak berketurunan banyak.

“Sai gabe-gabean ma hamuna maranak nang marboru. Bintang na rumiris ombun na sumorop anak pe riris boru pe torop, dan, emma tutu!”

Dalam keluarga batak seorang  perempuan kurang mendapat peran baik dalam pengambilan keputusan apalagi dalam pembagian harga sana-sini (harta warisan).

Dalam sebuah acara adat, misalnya martonggo raja, marhusip atau yang lainnya,  perempuan batak kebanyakan hanya sebagai pelengkap saja.

Dalam pembagian harta warisan, perempuan batak tidak mendapat hak sama sekali kecuali hanya sebatas tanda kasih keluarga (tanda ni holong).

Bila ada keluarga batak yang hanya memiliki anak perempuan, semua harta yang dikumpulkan oleh orang tuanya, misalnya Rumah, tanah maka harta itu menjadi hak dari anak saudaranya laki-laki. Anak kandungnya hanya mendapat sebahagian kecil saja. Sungguh tragis memang. Pada kondisi demikian maka si perempuan tersebut pun akan mendapat “suatu tekanan” dari masyarakat. (admin belum tahu pasti apakah masih berjalan sampai saat ini)

Admin pernah mendengar dari seorang perempuan batak dihina oleh lawan bertengkarnya hanya karena hal sepele.
“Ai aha na naeng asangkononmu, ai soadong ibotom”. Suatu kata-kata yang sangat pedih dan menyakitkan. Beliau juga sangat berharap mempunyai saudara kandung laki-laki untuk melindungi dan menjaganya selalu.

Namun bila kita amati dalan struktur segitiga Dalihan Na Tolu, Perempuan Batak ditempatkan pada tempat yang terhormat. Dalam Dalihan na Tolu Wanita Batak ditempatkan pada posisi puncak struktur tersebut.

Beberapa alasan yang mengungkapkan Perempuan Batak ditempatkan pada tempat terhormat :

1. Karena Wanita Batak
Laki-laki Batak akan menjadi parbohas diulaon ni Wanita Batak (pihak parboru/hula hula). Perduli Laki-laki Batak itu mempunyai status sosial yang tinggi. Tidak perduli bahwa beliau itu seorang Jenderal, Menteri atau Presiden-pun tetap harus di talaga/di dapur dan menjadi parhobas. Dia harus tunduk sesuai aturan yang berlaku dan menghormati pihak Wanita Batak (hula-hulanya) walau hula-hulanya itu “mokkik-okkik” di paradongan (hidup pas-pasan).

2. Sebutan-sebutan dalam Keluarga Batak
Dalam keluarga batak ada sebutan-sebutan antara:
– Untuk Laki-laki: Amang, Amang Siadopan, Amang Raja Doli
– Untuk perempuan : Inang, Inang Boru, Parsonduk Bolon, Inang Raja Boru, Inang Boru ni Raja, Inang Soripada.

Memang orang batak adalah anak dohot boru ni raja. Namun dalam pengungkapan di lapangan maupun dalam Rumah Tangga Batak jarang disebut untuk Kepala Rumah Tangga Amang anak ni Raja tetapi kalau Inang Boru ni Raja sering diungkapkan. Hal ini menandakan walaupun sama-sama anak dan boru ni raja tetapi untuk perempuan batak diperjelas dan diperdalam lagi pengungkapan untuk menghormati bahwa Wanita Batak bukan hanya sekedar Boru ni Raja tetapi jelas-jelas boru dan keturunan raja.

3. Dalam pemberian tanda jasa atau gelar atau dalam pemberian ulos selalu kita dengar sebutan untuk Wanita Batak dengan “Inang Soripada”.
“Asa dipasahat hami songan silas ni roha nami ro ma tu joloan Amang…dohot “Inang Soripada” (walau sebenarnya pemberian tanda jasa itu hanya untuk suaminya tetapi Wanita Batak selalu dipanggil dengan sebutan yang sangat terhormat). Kalau kita terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia “Inang Soripada” mempunyai arti yang lebih tinggi dari Istri Tercinta, Istri Tersayang, Ibunda tercinta, bahkan juga lebih tinggi dari Tuan Putri, Permaisuri, Rani ataupun Ratu.

Maka apakah Wanita Batak tidak bangga dengan sebutan yang disandangnya?
Walaupun kadang mendapat tekanan dalam kehidupan sosial tetapi berbahagialah perempuan yang terlahir sebagai Wanita Batak.

Perlu Diingat:

1. Tulisan ini bukan menganjurkan agar Wanita Batak harus menikah dengan Lelaki Batak, tetapi kalau boleh menikahlah dengan Lelaki Batak.

2. Kalau Wanita Batakk rindu dengan sebutan-sebutan tersebut menikahlah dengan Lelaki Batak. Tetapi jangan menikah hanya karena sebutan-sebutan tersebut.

3. Tulisan ini sebagai salah satu bentuk penghormatan Saya pribadi kepada Wanita Batak.

HORAS!!! MEJUAH-JUAH!! NJUAH-NJUAH!!!

/IdToba

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *