Menelusuri Asal Muasal Suku Batak ke Pusuk Buhit

JAKARTA – Menurut kepercayaan masyarakat Batak, pada abad XII, Pusuk Buhit dianggap sebagai tempat asal muasal seluruh Suku Batak. Dalam perkembangannya, nenek moyang Suku Batak menyebar ke delapan penjuru mata angin, yakni; Purba, Anggoni, Dangsina, Nariti, Pastia, Mangadia, Utara, Irisanna atau dari Timur higga Timur Laut.

Pusuk Buhit adalah sebuah Gunung yang terbentuk akibat sisa letusan Gunung Toba yang memiliki tinggi berkisar 1800 Mdpl. Saat ini wilayah Pusuk Buhit dikelilingi oleh 3 Kecamatan, yakni Sianjur mula-mula, Panggururan dan  Harian Boho. Dari Kota Medan, menuju Pusuk Buhit dapat diakses melalui panggururan, via darat yang ditempuh sekitar 7 Jam perjalanan melawati rute Medan-Kabanjahe-Sidikalang-Tele-Panggururan.

Selain menikmati panorama alam yang begitu indah, di Pusuk Buhit kita juga dapat belajar sejarah tentang asal mula orang Batak dengan berbagai peninggalan sejarah yang masih terjaga. Orang batak meyakini bahwa nenek moyang mereka (Si Raja Batak) merupakan manusia setengah dewa yang diturunkan langsung ke Pusuk Buhit. Kemudian si Raja Batak membangun perkampungan awal di Sianjur Mula-Mula yang berada di garis lingkar Gunung Pusuk Buhit di seputaran Lembah Sagala dan Limbong Mulana. Dari sanalah persebaran suku batak dimulai.

Dalam Tarombo Naimarata dijelaskan bahwa Si Raja Batak memiliki 3 (tiga) orang anak yaitu: Guru Tatea Bulan (Si Raja Lontung), Raja Isombaon (Si Raja Sumba), Toga Laut. Ketiga anak si Raja Batak inilah yang diyakini meneruskan tampuk pimpinan Raja Batak dan asal mula terbentuknya marga-marga. Di sekitar Pusuk Buhit terdapat berbagai peninggalan sejarah dan fenomena alam seperti sumur tujuh rasa (Aek Sipitu Dai), Batu Hobon, Pemandian air panas (Aek Rangat), dan tujuh batu sakral yang memiliki cerita legenda tersendiri.

Berada di kawasan Pusuk Buhit ini, seakan berada di sebuah tempat dan jaman yang berbeda. Pada umumnya orang Batak percaya kalau Siraja Batak diturunkan langsung di Pusuk Buhit. Siraja Batak kemudian membangun perkampungan di salah satu lembah gunung tersebut dengan nama Sianjur Mulamula. Sianjur Mula Tompa yang masih dapat dikunjungi sampai saat ini sebagai model perkampungan pertama suku Batak. Letak perkampungan itu berada di garis lingkar Pusuk Buhit di lembah Sagala dan Limbong Mulana. Ada dua arah jalan daratan menuju Pusuk Buhit. Satu dari arah Tomok (bagian Timur) dan satu lagi dari dataran tinggi Tele.

Untuk mendaki puncak Pusuk Buhit bisa dilakukan dari dua jalur. Jalur utara melalui Desa Limbong. Sedangkan jalur barat dari Desa Sijambur. Dibutuhkan waktu tempuh kurang lebih 4 jam perjalanan (untuk pemula) dengan rute yang cukup melelahkan. Hal ini disebabkan banyaknya perbukitan-perbukitan yang harus dilalui sebelum dapat menginjakkan kaki di puncak gunung tersebut. Dari atas puncak tentu saja kita dapat menyaksikan bentangan Danau Toba yang begitu menakjubkan. Bagi yang ingin nge-camp, juga dipersilahkan, dirikan tenda di beberapa spot puncak Pusuk Buhit.

Dalam cerita masyarakat setempat, Pusuk Buhit sebagai tempat turunnya Si Raja Batak yang pertama, diutus oleh Mulajadi Nabolon atau Tuhan Yang Maha Esa untuk mengusai tanah Batak. Disanalah Raja Batak memulai kehidupannya. Dalam silsilahnya, Raja Batak memiliki dua orang anak sebagai pembawa keturunan atau marga dan menjaga martabat keluarga. Kedua putra Raja Batak itu bernama Guru Tatea Bulan dan Raja Isombaon.

Guru Tatea Bulan memiliki lima orang putra dan lima orang putri. Kelima putranya bernama; Raja Uti (tidak memiliki keturunan), Sariburaja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Silau Raja. Dari keturunan mereka lah asal muasal semua marga-marga Batak muncul dan menyebar ke seluruh penjuru.

Mulai dari garis Si Raja Batak, asal-usul manusia Batak bukan dianggap legenda lagi tapi menjadi tarombo atau permulaan silsilah. Pada generasi sekarang telah dikenal aksara atau lazim disebut Pustaha Laklak. Sebelum meninggal, Si Raja Batak sempat mewariskan “Piagam Wasiat” kepada kedua anaknya Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon.

Guru Tatea Bulan mendapat “Surat Agung” yang berisi ilmu pedukunan atau kesaktian, pencak silat dan keperwiraan. Raja Isumbaon mendapat “Tumbaga Holing” yang berisi kerajaan (Tatap- Raja ), hukum atau peradilan, persawahan, dagang dan seni mencipta. Guru Tatea Bulan memiliki sembilan anak yaitu Si Raja Biak-biak, Tuan Saribu Raja, Si Boru Pareme (putri), Limbong Mulana, Si Boru Anting Sabungan (putri), Sagala Raja, Si Boru Biding Laut (putri), Malau Raja dan Si Boru Nan Tinjo (maaf, konon seorang banci yang dalam bahasa Batak disebut si dua jambar). Dari keturunan Guru Tatea Bulan terjadi pula perkawinan incest. Antara Saribu Raja dengan Si Boru Pareme. Ini yang menurunkan Si Raja Lontung yang kita kenal marga Sinaga, Nainggolan, Aritonang, Situmorang, dan seterusnya.

Suku Batak sangat menghormati leluhurnya sehingga hampir semua leluhur marga-marga Batak diberi gelar Raja sebagai gelar penghormatan, juga makam-makam para leluhur orang Batak dibangun sedemikian rupa oleh keturunanya dan dibuatkan tugu yang bisa menghabiskan biaya milyartan rupiah.Tugu ini dimaksudkan selain penghormatan terhadap leluhur juga untuk mengingatkan generasi muda akan silsilah mereka.

/Netral

 

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *