Perempuan “Bule” Yang Jatuh Cinta Kepada Danau Toba

Annette Horschmann, perempuan asal Jerman, masih belum bisa menjawab pertanyaan mengapa dirinya jatuh cinta kepada Danau Toba pada pandangan pertama dan memutuskan mengabdi untuk kelestarian lingkungan dan pembangunan pariwisata di danau vulkanik terbesar di dunia itu.

Yang ia tahu, tahun 1993 setelah menyelesaikan pendidikan sarjana hukum di Universitas Koln ia berencana mengunjungi Thailand, Malaysia, Indonesia, Selandia Baru, dan AS. Sebelum tiba di Bali, Bu Anne — demikian ia kini dipanggil tidak kenal Danau Toba. Kepada beberapa wartawan yang mewawan carainya tahun 2010, Bu Anne mengatakan; ”Danau Toba saya dengar saat saya berada di Bali.

Ada ’suara’ yang mendorong saya untuk mendatanginya.” Bu Anne melupakan perjalanannya ke Selandia Baru. Ia menempuh perjalanan darat untuk sampai ke Danau Toba. Ia singgah di Yogyakarta, dan Jakarta. Nyeberang ke Sumatera, ia sempat singgah di Bukit Tinggi. ”Seorang pemandu wisata mengatakan saya akan menemukan jodoh di Indonesia,” kenang Bu Anne. ”Saya katakan, tidak mungkin.” Tiba di Danau Toba, tepatnya di Tuktuk, Bu Anne benar-benar jatuh hati dan mencoret semua rencana perjalanannya ke Selandia Baru dan AS. Ia bermukim di sana, menikah dengan pemandu wisata dan memiliki tiga anak.

Bu Anne mempelajari semua tentang Danau Toba. Terutama tentang sejarah geologis kaldera, dan masyarakat sekelilingnya. Bahkan ia terus mencari informasi terbaru tentang Danau Toba, temuan peneliti mancanegara. Bill Rose dan Craig Chesner, dari Michigan Technological University, memperkirakan Danau Toba terbentuk akibat letusan supervolcano sekitar 73 ribu-75 ribu tahun lalu.

Material vulkanik yang dimuntahkan gunung itu mencapai 2.800 kilometer kubik, dengan 800 kilometer kubik baguan ignimbrit dan 2.000 kilometer kubik abu vulkanik yang. Letusan menyebabkan kepunahan banyak spesies. Setelah letusan, terbentuk kaldera yang terisi air dan sekarang disebut Danau Toba. Selama puluhan tahun Danau Toba membuat ilmuwan bertanya-tanya bagaimana gunung api super menyimpan magma dalam jumlah besar selama sekian puluh ribu tahun tanpa batuk dan mengeluarkannya.

Christoph Sens-Schonfelder dan Kairly Jaxybulatov, dari GFZ German Research Center for Geoscience dan Trofimuk Institute of Petroleum Geology and Geophysics di Rusia, berusaha menjawab pertanyaan itu. Keduanya menganalisis struktur internal reservoir magma di bawah kaldera Toba dengan basis gelombang seismik. Sens-Schonfelder mempublikasikan penelitiannya di jurnal Science, dan dikutip Nature World News.

Menurutnya, kerak bagian tengah super Toba terdiri atas lapisan-lapisan horisontal, seperti lapis legit dan tersimpan di kedalaman tujuh sampai 19 kilometer di bawah Pulau Samosir. Reservoir magma diperkirakan berdiameter 10 sampai 20 kilometer. Tahun 1993, ketika Annette Horschmann datang, pariwisata Danau Toba sedang berkembang hebat.

Kunjungan wisman mencapai 200 ribu per tahun. Tahun berikut naik menjadi 265 ribu, dan puncaknya terjadi tahun 1995 dengan 300 ribu orang. Ia mengembangkan bisnis penginapan, dan menggerakan masyarakat untuk melestarikan lingkungan Danau Toba, terutama di Tuktuk. Ia mendapatkan berbagai penghargaan dari pemerintah daerah, dan terus merawat cintanya kepada Danau Toba. Setelah krisis ekonomi Asia 1997, dan kejatuhan rejim Soeharto tahun 1998, jumlah kunjungan wisman ke Danau Toba terjun bebas menjadi 90 ribu orang pada tahun 1999.

Sampai saat ini angka kunjungan wisatawan ke Danau Toba tidak pernah kembali ke posisi tahun 1995. Di sisi lain, kondisi Danau Toba terus memperihatinkan akibat banyaknya keramba jaring apung (KJA), usaha budi daya ikan masyarakat. Namun, selalu ada keinginan membangun Danau Toba sebagai destinasi wisata. Pemerintah Presiden Joko Widodo, yang menjadikan pariwisata sebagai leading sector, memasukan Danau Toba ke dalam 10 Destinasi Unggulan.

Pembangunan Danau Toba skala nasional dimulai dengan membentuk badan otorita. Tujuh bupati di sekitar Danau Toba mendukung pembentukan badan ini, yang membuat kaldera supervulcano ini secara otomatis berada di bawah manajemen tunggal. Sebagai destinasi prioritas, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya memperingatkan pentingnya amenitas, atraksi, dan aksesibilitas (3A) bagi pembangunan Danau Toba. Atraksi Danau Toba sungguh luar biasa, amenitas akan dibangun dengan pemberian kredit homestay kepada masyarakat, dan akses darat dan udara ditangani Kementerian Perhubungan.

Sejumlah maskapai membuka jalur penerbangan Kuala Namu-Silangit, Batam Silangit, Kuala Namu-Tebing Tinggi, Singapura- Kuala Namu, untuk memberi kemudahan akses wisman ke Danau Toba. Di sisi lain, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus mempromosikan Danau Toba lewat berbagai event. Annette Horschmann, atau Bu Anne, mungkin boleh tersenyum lega menyaksikan Danau Toba – kaldera yang dicintainya – akan populer lagi seperti dua dekade lalu, atau saat ia kali pertama menatapnya.

cometoliketoba.com

Post Author: Come To Lake Toba

You know my name but not my story

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *