Marpadan, Menciptakan Keteraturan dan Tertib Sosial Suku Batak Toba

JAKARTA – Marpadan adalah janji atau perjanjian berupa ikrar yang disepakati oleh orang yang berjanji dan didasari oleh persetujuan bersama. Perjanjian padan atas kesepakatan sian dos ni roha dan oleh kemurahan hati kedua belah pihak. Padan bukanlah dalam pemahaman janji an sich, sebab melanggar padan tidak sama hukumnya dengan melanggar perjanjian. Padan lebih kuat dari hukum, “Togu urat ni bulu toguan urat ni padang, togu ni dok ni uhum toguan nidok ni padan“. Peraturan hukum kukuh, tetapi isi perjanjian (Padan) lebih kukuh lagi. Pelanggaran terhadap padan tidak hanya ditanggung oleh sipelanggar janji (padan), tetapi juga sampai pada generasi-keturunan berikutnya. Dengan jelas, bahwa pengingkaran akan isi padan, bagi pelanggar, ada unsur kepercayaan kutukan di dalamnya.

Dengke ni Sabulan tu tonggina tu tabona Manang ise si ose padan tu ripurna tumagona“. Frasa inilah yang lazim diungkapkan orang Batak Toba  jika  Pajongjong Padan (baca: melakukan angkat sumpah). Secara harafiah dan leksikal ungkapan ini diartikan:  Ikan dari Sabulan gurih dan enak, barang siapa yang  mengingkari sumpah akan binasa dan lenyap (mati).  Secara filosofi, untaian kata ini agaknya berbau magis-religius,  yang tak kurang membuat kuduk berdiri sebab konsekuensi melanggar kontrak perjanjian ini adalah mendapat karma-kebinasaan dan kematian.

Melakukan perjanjian padan pada masyarakat Batak seperti dijelaskan Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen, Manguji Nababan, bertujuan untuk menciptakan keteraturan dan tertib sosial. Pada masa lalu, ikatan kontrak padan amat nyata dalam menjunjung tinggi komitmen yang tercermin dalam keselarasan antara ucapan dan perbuatan.  Oleh karena itu pula sehingga nilai menepati janji  nyata tertransformasi pada suku Batak Toba. Hal ini barang kali ada kaitannya antara budaya marpadan dengan konsekuensi pelanggaran melalui hukuman atau sanksi yang cukup keras.

Padan kata Manguji bersifat pribadi dan rahasia, diucapkan tanpa saksi namun terkadang dengan menghadirkan saksi, baik saksi manusia maupun perjanjian yang disaksikan oleh alam. Jika padan diucapkan pada waktu malam, maka saksinya adalah bulan, yang dikenal dengan padan marbulan. Dan jika diucapkan pada siang hari maka saksinya adalah matahari, yang disebut padan marwari. Hal ini membuktikan bahwa nenek moyang orang Batak telah memahami bahwa keteraturan hidup yang akan membawa kemakmuran kepada manusia ditentukan oleh keharmonisan makrokosmos dengan mikrokosmos-hubungan alam dan manusia.

Konsekuensi bagi pelanggar dan pihak yang setia terhadap pelaksanaan isi padan juga diganjar dengan reward and finalty yang jelas. Pat ni satua tu pat ni lote, mago ma panguba mamora na niose secara harafiah dan leksikal diartikan: Kaki tikus ke kaki burung puyuh, Lenyap/hilanglah yang mengingkari sumpah/janji, akan kayalah yang diingkari. Seseorang atau kelompok yang mengingkari janji menurut Manguji akan hilang lenyap (mati), dan orang yang diingkari akan menjadi kaya. Hukum sosial juga berlaku bagi siapa saja yang melanggar padan. Barang siapa yang mengingkari janji akan dikutuk dan dikucilkan oleh masyarakat umum, sedangkan pihak yang diingkari akan mendapat simpati dan pengharapan yang baik dari sang pemberi rahmat. Sangsi dipaduru (dikucilkan) adalah hukuman yang amat berat, sebab seseorang itu bisa saja tidak lagi diikutkan dalam  pelaksanaan adat dan kegiatan sosial lainnya.  

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *