Warga Batak Harus Senyum, Danau Toba Jadi Prioritas Wisata

ksl

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono berkelakar bahwa orang Batak harus diedukasi agar lebih ramah kepada wisatawan yang datang berwisata ke Danau Toba.

Hal tersebut kata Basuki, untuk mendukung program pemerintah yang menetapkan, danau Vulkanik terbesar di dunia tersebut sebagai prioritas destinasi wisata di Indonesia.

“Yang jelas program-program untuk dukungan terhadap destinasi danau toba ini sudah in place tempat tinggal. Masyarakatlah yang harus di edukasi. Jadi orang Batak itu harus senyum, jangan merengut terus,” ujar Basuki di Institut Teknologi Del, Lagu Boti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Minggu 21 Agustus 2016.

Basuki juga berujar, orang Batak harus murah senyum. Sebab, mereka nantinya akan lebih sering menerima tamu wisatawan, baik lokal maupun internasional seiring dengan program penguatan wisata Danau Toba berjalan.

“Orang mau terima wisatawan kok merengut. Harus senyum. Itu harus dilatih loh yang kayak gitu itu,” kata Basuki.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan pun menimpali pernyataan Basuki. Luhut mencontohkan, kalau orang Batak tak dibiasakan tersenyum, dirinya takut, jika ada wisatawan yang sedang menikmati segelas kopi, kemudian ingin tambah, bukan kopi yang akan didapat, tapi justru pernyataan yang kurang menyenangkan dari pemilik warung kopi.

“Kalau tak ada senyum, nanti diminta tambah kopi, marah. Kenapa tidak dari tadi kali kau minta dua kopi, katanya,” ujar Luhut mencontohkan penjual kopi.

Sementara itu, pegiat budaya Batak, Jhon Fawer Siahaan mengatakan, sebenarnya banyak masyarakat Batak yang ingin mengubah perilaku dan stigma yang sudah melekat. Menurutnya, orang Batak sejatinya murah senyum dan sangat ramah.

“Kita mau coba ubah, Batak tak kayak itu, kayak marah-marah kurang senyum. Sangat ramah,” kata dia.

Dirinya berpendapat, ada kampanye buruk yang terus tersiarkan ke masyarakat luas, sehingga ada pandangan bahwa orang-orang Batak itu pribadinya keras, suka marah-marah.

“Coba ke tanah Batak yang belum terkontaminasi. Mereka ramah-ramah. Ini seperti ada kampanye buruk, padahal tidak seperti itu,” kata penulis buku Seribu Sajak Tao Toba tersebut.

sumber: viva.co.id

Post Author: Come To Lake Toba

You know my name but not my story

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *