Pak Jusuf Kalla Incorrect soal Danau Toba

Saya terpana membaca berita di koran-koran tentang pidato Wakil Presiden Jusuf “JK” Kalla mengenai destinasi wisata Danau Toba. Kata JK, Danau Toba merupakan modal usaha yang diberikan Tuhan untuk Sumatera Utara. Tidak perlu kita mengajukan kredit ke bank. Tidak butuh modal dari bank. Lho? Sebab, “Ada angin, keindahan, Danau, hutan, sudah disediakan,” katanya pada acara Musyawarah Masyarakat Adat Batak 2016 di Parapat, Ahad (30/7) lalu.
Menurut JK, orang melihat tarian tortor (Batak) tidak untuk berkali-kali, hanya sekali. Namun untuk melihat pantai, merasakan angin, merasakan kenyamanan, melihat keindahan alam bisa berulang kali. “Inilah yang harus dijual. Saya saja ke Bali, cukup sekali melihat pura. Tapi keindahan, berkali-kali,” katanya.

Saya kira pandangan JK itu akan melemahkan kreativitas masyarakat. Sebab jika hanya mengandalkan keindahan dan panorama alam saja tidak cukup untuk menarik wisatawan. Masyarakat harus kreatif dalam menciptakan berbagai event menarik dan usaha kuliner, suvenir, hingga pagelaran kesenian yang eksotik. Nah, tentu saja ada yang memerlukan kredit perbankan agar masyarakat menjadi subjek, dan bukan sebagai penonton belaka.

Apalagi jika mendirikan homestay – di mana para wisatawan menginap di rumah penduduk – dibutuhkan biaya renovasi agar kamar-kamarnya nyaman dengan toilet yang bersih pula. Keramah-tamahan warga tak kalah penting, sehingga budaya tersenyum menyambut tamu harus dibangkitkan.

Saya teringat Menteri Pariwisata Arief Yahya sudah menyiapkan program homestay bersama Kementerian PU-PR. Finansial di-support BTN, harga Rp 150 juta sampai Rp 300 juta, dicicil 20 tahun, bunga flat 5%, uang muka 1%, sehingga sangat sangat murah.

Dirancang jumlahnya di seluruh Indonesia bisa 100 ribu homestay. Tentu saja ini menaikkan daya saing masyarakat yang kelak neraih langsung dampak finansial. Syahdan, Kementerian Pariwisata akan membantu dengan mengerahkan mahasiswa Akademi Pariwisata Medan melakukan KKN (kuliah kerja nyata) di tengah warga Danau Toba. Saya kira, kali ini Pak JK, maaf, incorrect (tidak benar). Sebab jika mengandalkan keindahan saja, tanpa dibarengi dengan ikhtiar yang kreatif, dan inovatif, masyarakat hanya bak menunggu hujan dari langit. (Bersihar Lubis)

Sumber:http://www.medanbisnisdaily.com

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *