Titik Nol Danau Toba

Di balik keindahan dan cerita dahsyat terbentuknya Danau Toba, ada sisi menyayat yang terjadi dalam 20 tahun terakhir. Toba adalah kawasan wisata yang menjadi saksi runtuhnya industri pariwisata akibat krisis ekonomi. Dalam dua dekade ini, Toba seakan kembali ke titik nol.

Membayangkan terbentuknya kawasan kaldera yang kita kenal dengan Danau Toba, tidak bisa lain, decak kagum dan kata dahsyat menjadi ungkapan yang tepat. Danau di Sumatera Utara ini terbentuk dari letusan maha dahsyat 74.000 tahun lalu. Letusan itu tercatat sebagai letusan gunung paling kuat dalam sejarah dunia selama rentang waktu dua juta tahun terakhir.

Proses alam tersebut menghasilkan penampakan alam danau besar yang memiliki panjang sekitar 100 kilometer dan lebar 30 kilometer. Dengan Pulau Samosir di tengahnya, keindahan Danau Toba menyajikan pemandangan yang sangat elok dari berbagai sisi.

Sebagai destinasi wisata, kawasan Toba merupakan obyek wisata yang sangat lengkap karena tak hanya kaya dengan pemandangan alam yang indah, tetapi juga memiliki keanekaragaman budaya dan sejarah. Kehidupan sosial budaya dan eksotisme tradisi masyarakat Batak, baik yang mendiami tepian danau maupun Pulau Samosir, turut menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung.

Minim wisatawan

Sayangnya, potensi luar biasa Toba sebagai destinasi wisata kelas “dunia” ternyata tidak cukup menarik wisatawan untuk berkunjung dalam jumlah signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Samosir, salah satu kabupaten di kawasan Toba, jumlah wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang berkunjung ke kawasan Toba pada 2015 hanya sekitar 175.000 orang. Jumlah ini memang meningkat dari beberapa tahun sebelumnya, tetapi masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pada masa “kejayaan” Toba dan Samosir, tahun 1995-1996.

Tahun 1996 atau sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Kabupaten Samosir mencapai 249.656 orang. Namun, tahun 2015, wisatawan asing yang berkunjung hanya 34.248 orang. Jumlah itu hanya 20 persen dari jumlah wisatawan asing 20 tahun lalu. Saat banyak destinasi wisata di daerah-daerah lain di Indonesia meningkat pesat jumlah pengunjungnya, Danau Toba harus terseok-seok, memulai lagi dari bawah.

Minimnya jumlah wisatawan yang datang ke Toba tecermin dari rendahnya sumbangan sektor-sektor lapangan usaha pendukung wisata bagi produk domestik regional bruto (PDRB) di tujuh pemerintah daerah di kawasan Toba, yakni Kabupaten Simalungun, Samosir, Toba Samosir, Dairi, Tapanuli Utara, Karo, dan Humbang Hasundutan. Ini seperti penyediaan akomodasi, makanan dan minuman, sektor transportasi, dan perdagangan.

Pada 2014, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum ditambah sektor transportasi hanya menyumbang sekitar 2,4 persen dari total PDRB Kabupaten Simalungun. Sumbangan terbesar masih dikuasai sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (54,4 persen).

Bahkan, di Kabupaten Samosir, salah satu dari tujuh kabupaten yang paling banyak mendapat berkah dari wisata Toba, persentase sumbangan sektor pendukung wisata ini tidak lebih dari 8,2 persen dari total PDRB. Ada peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi relatif kecil.

Rendahnya kontribusi sektor wisata di kawasan Toba bagi PDRB, yang tidak sebanding dengan potensi wisatanya, membuat pemerintah pusat berencana mengembangakan destinasi wisata Toba secara lebih masif. Selain membentuk badan otorita sebagai pengelola agar pengembangannya bisa lebih komprehensif, pemerintah pusat kabarnya juga mengalokasikan anggaran sekitar Rp 21 triliun untuk mempercepat pengembangan kawasan wisata Toba. Dengan gerakan ini, semoga Danau Toba segera beranjak dari titik nol.

Sumber:http://print.kompas.com

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *