Pemprov Sumut Programkan Tebar 100 Ribuan Ikan Endermik Danau Toba Tiap Bulan

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Sumut Zonni Waldi mengatakan akan melakukan restoking ikan endemik Danau Toba berkisar 100 ribu ekor setiap bulannya hasil dari pembenihan UPT Kerasaan.
“Alhamdulillah kita sudah berhasil melakukan produksi benih ihan atau yang biasa di sebut ikan jurong dimana hari ini sudah dilepas oleh Bapak Wapres dan Gubsu ke perairan Danau Toba,” jelas Zonni kepada wartawan, Sabtu (30/07/2017).Dijelaskannya 20 ribu ikan tawes yang ditebar juga hasil pembenihan pihaknya sedangkan 5 ribu ikan pora-pora bantuan dari Pangdam I BUkit Barisan.

Dia menjelaskan, ketika Keramba Jaring Apung (KJA) mulai diturunkan maka restoking akan ditingkatkan, tujuannya untuk meningkatkan pendapatan nelayan. Produknya nanti bisa diolah oleh industri kecil. Di daerah-daerah tertentu, menurut Zonni akan ditetapkan sebagai kawasan suakaikan atau perlindungan ikan. Di lokasi suaka ikan tidak boleh ada penangkapan ikan.

Zonni menjelaskan bagian dari pelaksanaan Rencana Aksi aksi terpadu penanganan Kawasan Danau Toba Tahun 2016-2018, bulan Agustus ini akan dilakukan pendata ulang KJA milik masyarakat yang ada. Akan dilakukan pemeriksaaan by name dan by adress pemilik keramba per kabupaten serta luasannya.

Menurutnya KJA masyarakat dan KJA perusahaan yang ada di Danau Toba pada tahun 2015 memproduksi 80 ribu ton ikan per tahun padahal kapasitas daya dukung danau hanya 50 ribu ton per tahun. Dijelaskannya dua perusahaan memproduksi 51 ribu ton per tahun dan KJA rakyat sebesar 29 ribu ton per tahun. “Produksi yang ada 60% melebih daya dukungnya, untuk itu akan dilakukan moratorium izin KJA dan zero KJA untuk mendukung Danau Toba sebagai tujuan wisata kelas dunia,” jelasnya.

Untuk mendukung itu, pemerintah Provinsi dan Pemerintah daerah terkait serta pemerintah pusat akan melakukan penataan KJA secara bertahap hingga posisi zero pada tahun 2018. “Sebelumnya kita akan melakukan penataan, tentu ada masa transisi, dilakuikan secara bertahap . Namun kalau masih ada ruang dan sepeanjang budidaya tidak mencemari, akan diatur zonasi KJA. Karena menurutnya  sesuai Perpres 81 tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba, budidaya perikanan masih diperbolehkan namun harus dikendalikan zonanya.

Diakui Zonni pemerintah harus hati-hati dalam penanganan KJA agar jangan sampai muncul konflik sosial. “kalau serta merta dipangkas dikhawatirkan ada konflik sosial, seiring waktu diupayakan petani KJA beralih ke sektor industri  yang mendukung pariwisata,” kata Zonni.

Kita juga fikirkan, kalau tutup sekaligus, ada banyak petani pembenih ikan yang kehilangan order. Karena KJA di sekitar DAnau Toba benih ikannya berasal dari daerah-daerah sekitar yaitu Medan, Deliserdang, Serdang Bedagai dan Simalungn dan Tobasa.

Sumber:http://dnaberita.com

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *