Mewujudkan Danau Toba sebagai Wisata Kelas Dunia

Danau Toba mesti menjadi sasaran destinasi wisata dan Monaco of Asia 5 tahun ke depan. Selain memberi peluang usaha baru dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat umum‎. Saya terbayang 5 tahun ke depan, di sana, anak-anak sepulang sekolah berlomba berlari datang ke tempat kursus bahasa asing, ke sanggar tari atau sanggar musik tradisional belajar, menempa diri, karena mereka bangga menjadi pemandu wisata atau penggiat seni budaya tradisional saat dewasa nantinya. Kaum bapak sudah meninggalkan lapo (kedai kopi) lapo tuak (kedai tuak) di pagi hari dan bersama istrinya di rumah membuat atau mengolah makanan, snack, kerajinan tangan yang menjadi oleh-oleh, buah tangan, yang menarik bagi wisatawan yang datang. Industri rumah tangga kecil nan kreatif menjamur di Sumut, hingga kita tidak perlu lagi mendatangkan kaos “come to lake toba”, gelang, kalung dan beraneka souvenir lainnya dari Bandung dan Jogja.‎

Untuk mewujudkan hal ini, Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan dan Gubernur Sumut HT Erry Nuradi telah mengeluarkan serangkaian kebijakan strategis. Pada acara penutupan festival paduan suara bertaraf internasional yang bertajuk 1st North Sumatera International Choir Competition 2016 di Open Stage Parapat, Sabtu (23/7), Gubsu menyampaikan bahwa momentum masyarakat Sumut‎, khususnya masyarakat 7 kabupaten sekitar Danau Toba untuk ‎lebih dikenal di masyarakat internasional, sudah tiba.

Gubsu menjanjikan Pemprovsu akan memberikan perhatian khusus untuk mendukung pariwisata Danau Toba. Direncanakan ada 4-6 event acara yang dibiayai dari APBD Provsu 2017 dengan tujuan dapat menarik animo turis dan wisatawan.

Sementara, Menko Polhukam pada kata sambutannya menyampaikan bahwa momentum ini jangan disia-siakan berlalu begitu saja. Pemerintah pusat akan konsisten dengan rencananya menjadikan Danau Toba menjadi Monaco of Asia. 

“Tahun depan Bandara Sibisa akan diperbaiki sehingga akses menuju danau Toba semakin cepat dan lebih baik lagi sehingga animo wisatawan dan turis mancanegara meningkat. Zero tolerance untuk semua aktivitas yang mencemari Danau Toba, keramba jaring apung adalah pasti dan tidak dapat ditawar. TPL harus “dibersihkan”. Sumut, Tapanuli khususnya, terbuka untuk kehadiran industri tapi dengan syarat industri yang ramah lingkungan. Tidak masanya lagi pemerintah kalah dan disetir oleh korporasi. Korporasi yang harus ikut aturannya pemerintah, bukan sebaliknya,” tegas Luhut Binsar Panjaitan dalam pidatonya.‎

Selain kedua hal di atas, saya juga sangat berharap momentum dan peluang menghidupkan kembali geliat pariwisata Danau Toba diikuti dengan adanya perubahan mental dan karakter semua masyarakat di sekitar kawasan danau toba, juga pelaku usaha wisata (hotel, penjual souvenir, restoran,dll). Keramah-tamahan, rasa persahabatan, kejujuran, kesopanan, keterbukaan menerima kehadiran setiap wisatawan yang datang harus bisa kita tunjukkan agar setiap turis/wisatawan yang datang merasa aman, nyaman dan tenang selama berwisata. Apa susahnya sedikit senyum dan ramah menyapa menghiasi wajah kita menyambut wisatawan yang datang?

Dua atau tiga orang wisatawan dan turis mancanegara yang berpapasan dengan kita di jalan adalah obyek peluang yang bisa menghadirkan 20-30 orang keluarga, teman dan tetangganya menjadi wisatawan penikmat danau Toba. Mereka bukan obyek penderita yang harus dikuras isi kantongnya dengan segala cara dan trik. Jangan lagi kita dengar ada wisatawan yang ditodong dan diperas di tengah jalan, pindah kamar atau hotel karena terpaksa, kesal dan menggerutu karena selimut dan air panas saja susah mereka dapatkan, atau akhirnya harus pindah ke penjaja suvenir lain karena tidak bisa menawar harga. 

Saya sangat mendukung statement Gubsu dan Menkopolhukam dan mengajak kita semua masyarakat Sumut mendukung dengan maksimal. Terkait dengan statement Gubsu dalam sambutannya, saya sangat berharap SKPD Pariwisata Provsu sepulang dari Parapat segera memikirkan, merencanakan dan merealisasikan “janji” Gubsu membuat 4-6 event acara khusus untuk pariwisata Danau Toba.‎

Saya juga mengharapkan SKPD PU Bina Marga sedikit memberi “perhatian lebih” untuk kelayakan infrastruktur jalan provinsi yang menjadi akses ke Danau Toba. Masyarakat dari Kisaran, Rantau, Labuhan Batu dan sekitarnya dari pesisir pantai timur Sumut, yang ingin berwisata ke Danau Toba, terpaksa harus memilih rute memutar melalui Tebing Tinggi karena belum tersedianya akses jalan yang memadai dan dapat memperpendek jarak tempuh mereka menuju Danau Toba. 

Kondisi penerangan jalan juga harus diperbaiki, sangat minim kita lihat lampu penerangan jalan raya pada semua akses jalan utama dan akses jalan sekunder menuju danau Toba, tentu saja ini sangat mempengaruhi faktor keamanan berkendara.‎

Danau Toba yang berwarna biru, destinasi wisata kelas dunia adalah dambaan kita.

Sumber:http://utamanews.com

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *