Air Danau Toba Terasa Lengket Di Kulit

“Sekarang, kalau berenang di Danau Toba, air danau terasa lengket di kulit.”

Hal itu diungkapkan Yudi, 29 tahun, saat pekan lalu mandi air Danau Toba. Rasa senang untuk mandi air danau telah berkurang jika dibanding sekitar 15 tahun silam. Tak bisa dipungkiri, pemandangan keramba jaring apung (KJA) dari kota wisata Parapat semakin mengganggu mata.

Kala melakukan perjalanan dari Kota Medan menuju Parapat, kemilau air Danau Toba berpadu sinar mentari kian memikat wisatawan. Begitu pula dengan kotak segiempat berisi berton-ton ikan berbaris mengapung di permukaan pinggir danau.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut Zonny Waldi tak bisa menampik bahwa KJA banyak berada di sekitar kota wisata. Menurutnya, keramba yang berada di sekitar Parapat lebih banyak dimiliki masyarakat, bukan perusahaan.

Penetapan zonasi telah dilakukan untuk menciptakan Kawasan Strategi Nasional Danau Toba. Namun, pendekatan yang dilakukan pihak pemerintah daerah untuk menetapkan regulasi tak digubris.

Kegiatan budi daya ikan dengan sistem KJA telah dilakukan masyarakat sejak 1986. Berdasarkan data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) jumlah keramba pada 2005 sebanyak 2.815 unit KJA, lalu pada 2007 berlipat ganda menjadi 5.612 unit dan 2009 jumlah KJA sudah mencapai 6.269 unit.

Zonny mengungkapkan volume ikan di Danau Toba melalui budi daya KJA telah jauh melampaui daya dukung lingkungan.

Adapun jumlah KJA Danau Toba per 2015 mencapai 11.781 unit yang terdiri dari 11.249 unit milik masyarakat sebanyak 29.806 ton. Lalu PT Aquafarm 475 unit dan PT Suri Tani Permuka, anak perusahaan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk sebanyak 75 unit masing-masing berjumlah 34.000 ton dan 21.000  ton.

Zonny menuturkan keberadaan KJA telah melewati ambang batas kewajaran terhadap daya tampung beban pencemaran (DTBP) sehingga evaluasi untuk KJA milik perusahaan dan masyarakat akan dilakukan pada tahun ini.

Dua tahun lalu, Susilo Bambang Yudhoyono telah mengeluarkan Presiden Republik Indonesia Nomor 81/2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba dan sekitarnya. Malang tak bisa ditepis, Perpres itu pun mati suri.

Dalam pasal 8 Perpres Nomor 81/2014 mengatur tentang strategi penataan ruang kawasan Danau Toba–tertulis mengembalikan fungsi kawasan resapan air pada daerah dengan kemiringan lereng paling sedikit 40%. Peraturan itu pun juga telah mengatur lokasi kawasan budi daya perikanan kawasan KJA didasarkan pada kualitas baku mutu air.

Beleid itu juga melarang budi daya perikanan Danau Toba di wilayah perairan terbuka dari tepian hingga kedalaman 30 meter yang memiliki fungsi utama sebagai habitat hewan dasar dan wilayah pemijahan ikan.

“Kami akan melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk melaksanakan Perpres 81/2014. Akan diarahkan budidaya KJA ke sekitar aliran Sungai Asahan,” kata Zonny, Selasa (7/6/2016).

Sistem KJA yang tidak tertata, pada Mei 2016 telah membawa malapetaka pada pengusaha keramba. Tercatat, hampir 2.000 ton ikan mati, akibat pemberian pakan berlebihan (over feeding) pada ikan dalam KJA. Sehingga banyak pakan tersisa yang mengendap ke lapisan bawah, ditambah pula feses ikan yang menyebabkan terakumulasinya bahan organik di lapisan bawah permukaan.

Bahkan Bupati Simalungun JR Saragih pun mulai ‘angkat tangan’ terkait keberadaan KJA di sekitar kota wisata Parapat. Katanya, keberadaan KJA di Simalungun banyak tanpa izin. Dia mengatakan cukup banyak pelanggaran zonasi KJA, tanpa memperdulikan perkembangan pariwisata.

Saragih pun berencana untuk mengembalikan nama baik Danau Toba seperti 15 tahun lalu. Dia tak ingin Danau Toba menjadi kolam ikan raksasa. Apalagi proyeksi Danau Toba menjadi “Monaco of Asia” kian gencar digaungkan.

Kerinduan Saragih yakni ingin menciptakan kondisi yang nyaman bagi pelancong di sekitar Danau Toba seperti Yudi. Sederhana dan tak muluk-muluk. Sama seperti harapan Yudi dan pelancong lain yang tak ingin mandi ditemani pakan dan feses ikan di pinggir Danau Toba.

Sumber:http://www.horassumutnews.com

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *