Manusia Purba Musnah saat Gunung Danau Toba Meletus 74 Ribu Tahun Lalu

Karmel Hebron Simatupang menyelesaikan tesisnya di Tunghai University Taiwan dengan judul Toba Caldera Geopark Discourse.

Tesis ini dibuat Karmel karena kecintaannya terhadap pengembangan kawasan Danau Toba.

Berbagai referensi dari sudut geologi ia temukan salah satunya buku dari Rose and Chesner yang menggambarkan kedahsyatan letusan Gunung Toba beribu tahun lalu.

“Berdasarkan buku karangan Rese and Chesner tahun 1987, Ini super volcano terbesar di dunia yang pada saat itu mampu mempengaruhi iklim dunia sekitar 74 ribu tahun yang lalu. Dan letusan itu letusan ketiga dari Gunung Toba,” jelas Karmel Hebron Simatupang sambil memperlihatkan referensi tesisnya kepada www.tribun-medan.com di Kantor RKI, Jumat (10/6/2016).

Ia menjelaskan, abunya tersebar di 2.100 lokasi di seluruh dunia hingga ke kutub Utara. Yang lebih dahsyatnya ada fakta yang juga dikemukakan Chesner, bahwa letusan Toba menciptakan kegelapan total di bumi selama enam tahun dengan suhu lima derajat celcius,

Karmel juga memberikan referensi lain mengenai geologi di Gunung Toba.

“Dalam buku Van Bammelen tahun 1939 juga mengatakan bahwa letusan Toba itu sangat dahsyat, Kompas TV juga pernah menginformasikan bahwa 2/3 populasi manusia purba musnah akibat letusan ini,” sambung Karmel Hebron Simatupang.

Seperti diberitakan sebelumnya, Karmel Hebron Simatupang, membawa harum Indonesia ketika berhasil menyelesaikan tesisnya berjudul Toba Caldera Geopark Discourse di Departemen of political Science/ Internasional Relations Division Tunghai University Taiwan.

Sebelumnya pria kelahiran Sipoholon 12 Juni 1988 ini merupakan sarjana manajemen di Universitas Methodist Indonesia.

Karmel melanjutkan pendidikan ke Taiwan melalui program pendidikan mahasiswa internasional dari Tunghai University.

“Ada beasiswa dari Tunghai University program mahasiswa internasional, dan saya lolos seleksi. Di Tunghai University ada 60 Mahasiswa Indonesia dan saya mahasiswa pertama Indonesia di Departemen Polical Science,” ujar Karmel.

Ia mengakui sistem masyarakat di Taiwan sangat berbeda dengan di Indonesia.

“Satu semester culture schok karena situasi perkuliahan didominasi bahasa Mandarin bukan Inggris. Kalau segi makanan di sana lebih enak dari Indonesia, buah dan sayuran lebih segar. Cocok dengan harganya yang mahal. Tapi saya bertekad harus tamat dari sana (Tunghai University). Sebelum tamat tidak boleh pulang. Saya berhasil menyelesaikan pendidikan S2 ini dalam dua Tahun tiga bulan,” sambung Karmel.

Karmel engatakan bahwa beasiswa dari Tunghai University hanya sebatas biaya perkuliahan. Dia harus bekerja paruh waktu untuk dapat menjalani hidup.

“Mereka (Tunghai University) hanya memberikan beasiswa pendidikan. Namun ada pekerjaan yang mereka tawarkan kepada mahasiswa internasional yang dibayar per jam. Saya terima tawaran itu. Kerja saya membersihkan universitas, kaca hingga kamar mandi dan dibayar NTD 120 (New Taiwan Dolars) kalau di Indonesia sekitar Rp 50 ribu. Jangankan masa depan, ini saya lakukan untuk bisa hidup setiap harinya,” jelasnya.

“Saya langsung cari orang Indonesia di Taiwan, termasuk orang batak di sana. Saya punya pedoman wajib dapat saudara saya dari Indonesia. Image orang Indonesia di Taiwan cukup baik. Masyarakat Taiwan melihat mahasiswa Indonesia pekerja keras. Berbeda Mongolia yang sedikit keras,” katanya.

Karmel Hebron Simatupang berhayal Indonesia dapat seperti Taiwan.

“Di sana kita Happy, listrik disana tidak pernah mati. Air minum gratis, dan tersedia di seluruh tempat umum seperti halte dan stasiun kereta api. Sampah tidak kelihatan, masyarakat Taiwan cukup sadar akan kebersihan. Saya berpikir ini bisa diterapkan di Indonesia atau minimal di Danau Toba,” tutur Karmel Hebron Simatupang bersemangat.

Sumber: http://bangka.tribunnews.com

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *