Singkat Cerita Tentang Danau Toba

Danau toba yang sudah kesohor sebagai salah satu destinasi wisata paling favorit di Indonesia kaya dengan daya tarik. Dengan luas lebih dari 1000km2 Toba menjadi salah satu danau terbesar di dunia. Toba terbentuk oleh letusan gunung api yang sangat besar ribuan tahun sebelum masehi, yang kemudian membentuk kawah danau Toba. Uniknya di tengah danau terdapat sebuah pulau bernama Samosir. Saya yakin destinasi wisata yang sudah populer ini menyimpan banyak hal menarik, namun dengan kunjungan saya yang singkat, kurang dari 24 jam ini hanya membuahkan cerita singkat tengan Toba.

Saya berkunjung ke Kota Medan dalam rangka business trip kerjasama bilateral Indonesia-Malaysia. Sebagian besar waktu tersita di Kota Medan. Atau lebih tepatnya waktu habis di kantor dan hotel. Dan beruntungnya salah satu agenda kegiatan kami adalah memperkenalkan obyek wisata Danau Toba kepada sejumlah delegasi dari Malaysia. Setelah menempuh perjalanan darat kira-kira 5 jam kami sampai di Hotel Inna Parapat. Hotel ini bukan yang termewah namun kami pilih dikarenakan alasan historis. Inna parapat pernah digunakan untuk menggalang kerjasama militer Indonesia-Malaysia. Dalam perjalanan dari tepian dana toba ke pulau samosir di tengah danau sana pemandu wisata membagi banyak ceritera yang merupakan akar budaya batak di pulau samosir.

Perjalanan kami ke Samosir sempat singgah sebentar di Batu gantung yang menceritakan kisah seorang anak gadis dan peliharaannya yang hendak mengakhiri hidupkan dengan melompat ke danau yang curam. Singkat kisah upaya anak gadis tersebut digagalkan akar pohon. Kelak tubuhnya menjadi dua batu yang menggantung di tebing tersebut. Kapal wisata kami pun berlanjut ke dermaga pulau Samosir. Berjalan kaki sebentar menuju kampung adat rombongan kami langsung disambut dengan musik tradisional batak. Alat musik sederhana yang terdiri dari gendang, seruling, dan hasapi. Jauh sebelum akhirnya ke danau toba musik seperti ini sudah sangat akrab ditelinga saya dan selalu diidentikkan dengan Batak. Namun ini kali pertama mendengarkannya secara “live”.

.
Musik Tradisional Samosir
Sembari rombongan yang lain sibuk belajar tari tor-tor dan meneriakkan horas, saya lebih tertarik dengan ceritera sigale-gale. Budaya batak banyak sekali diekspresikan dalam bentuk patung. Konon menurut sang pemandu hal tersebut dikarenakan di zaman dulu tidak ada media visual seperti foto untuk mengabadikan, dan masyarakat batak lebih memilih mengabadikan rupa seseorang melalui patung. Singkat cerita tentang sigale-gale ini, konon ada seorang raja yang memiliki putera yang sangat disayanginya. Sayang sekali putera raja tersebut tidak berumur panjang dan wafat di usia yang masih muda. Untuk mengobati kerinduan sanga ayah maka dibuatlah patung sigale-gale ini. Sebenarnya dulu patung sigale-gale hanya disimpan di dalam peti dan hanya dibuka oleh raja ketika ingin mengenang sang putera. Namun saat ini patung sigale-gale menjadi salah satu atraksi budaya, dibuat sedemikian rupa sehingga dengan bantuan seorang dalang yang mengatur gerakan dengan tali sigale-gale tampak seperti menari.
Kisah Sigalegale
Budaya batak sangat menjaga tradisi dan menjaga garis keturunannya. Mungkin hal itulah yang menyebabkan orang suku batak memiliki perawakan yang khas. Bentuk wajah dan ciri-ciri fisiknya memiliki beberapa kesamaan. Seperti pemain alat musik hasapi ini, he look soo familiar.
Pemain Hasapi, Gitar Tradisional Batak
Kunjungan yang sangat singkat ke danau toba memberi kesan yang mengundang saya ingin datang kembali. Di lain waktu saya tertarik untuk mengenal sisi lain budaya dan alam danau toba. Menghamburkan shutter untuk mengabadikan alam nan cantik ini.

 By Safruddin Alwi

Post Author: Come To Lake Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *